Budidaya Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part III
PRODUKSI BIBIT TEBU
Kualitas
bibit tebu yang digunakan dalam penanaman merupakan hal pokok untuk memperoleh
hasil yang tinggi, tanaman tebu yang sehat dan ratoon yang bagus. Kualitas
ditandai dengan bebas dari hama dan penyakit, varietasnya murni dan kemampuan
germinasi. Banyak penyakit yang ditularkan melalui infeksi pada bibit (seperti:
smut, RSD, mosaik, YLS, blendok dan klorotik steak) dan banyak diantaranya
dapat mengakibatkan kehilangan hasil. Kemurnian varietas meyakinkan kita bahwa
varietas tersebut tumbuh dan bibit tersebut tidak terkontaminasi dengan varietas
yang tidak diinginkan yang membawa penyakit. Bibit tebu yang muda mempunyai
pertumbuhan yang lebih vigor daripada tebu tua, dan germinasinya terjadi pada
awal, cepat terjadi dan pertumbuhannya seragam. Ini semua akan tercapai dengan
memuaskan jika produksi bibit tebu dikoordinasi oleh nurseri dan tidak dari
areal tebu komersial.
Kebun
bibit harus terisolasi dan tanaman tebu yang lain, pada tanah yang bagus dan
pada area yang bebas suhu beku. Bibit tebu harus berumur 8-10 bulan untuk
mendapatkan vigor yang bagus ketika ingin ditanam secara komersial di daerah
panas dan 12-15 bulan pada areal yang dingin. Penanaman di nurseri harus
direncanakan untuk memenuhi kebutuhan bibit pada umur tersebut. Dua stadia
nurseri yang ideal. Nurseri primer atau stadia nurseri pertama harus tumbuh
pada isolasi yang diikuti oleh isolasi jarak. Seringkali ada kerjasama nursery
untuk menyuplai sejumlah petani tebu dan dikoordinasikan secara intensif.
Introduksi varietas baru untuk suatu perusahaan (industri) atau wilayah selalu
ditempatkan pada stadia awal nursery. Pada skala luas nursery sekunder atau
stadia kedua akan diperbanyak dalam jumlah yang besar sebelum ditanam secara
komersial. Dari kedua tipe nurseri ini, tingkat manajemen dan kontrol terhadap
hama penyakit tanaman harus dilakukan secara intensif.
Ukuran
nurseri tergantung pada hasil bibit yang diinginkan, luas areal yang akan
direplanting dan jumlah bibit tebu dalam ton/ha yang akan ditanam skala
komersial. Varietas yang mempunyai populasi sedikit akan memerlukan areal bibit
nurseri yang cukup luas. Akan lebih baik jika dilakukan over estimasi terhadap
ukuran nurseri dalam hubungannya dengan bencana atau permintaan yang meningkat.
Nurseri harus diisolasi dengan batas yang jelas, untuk suatu periode (3 bulan) dan tanah harus diolah serta bebas
dari voluntir. Nurseri primer bibit tebu harus diperlakukan dengan air panas
juga dapat digunakan untuk mengurangi dominansi apikal, untuk mengeliminasi
kebutuhan pemotongan pada saat akan ditanam. Setelah tanam, sangat penting
untuk memonitor tanaman dari penyaki, mencabut tanaman yang terinfeksi terutama
oleh smut atau penyakit lain yang bisa menular secara sistemik dan bebas dari tanaman/varietas
campuran.
Di
Indonesia, Afrika Selatan, Swaziland mempunyai standar yang tinggi untuk
memproduksi bibit tebu. Di Zwaziland nurseri kebun bibit harus diregistrasikan
dengan ES (Extension Station) yang
akan melakukan inspeksi dan klarifikasi. Tidak ada nurseri yang akan
disertifikasi jika tidak memenuhi kriteria sebagai berikut :
Ø Infeksi
smut dan mosaic lebih rendah dari 0.1 %.
Ø Bebas
dari RSD dan YLS
Ø Infeksi
Eldana
saccharina lebih rendah dari 4 per 100 batang
Ø Bebas
dari tanaman off type dan lebih
rendah dari 0.1 % campuran dari varietas lain
Ø Bibit
mungkin tidak bisa dipindahkan dari suatu wilayah ke wilayah lain tanpa sertifikat
maupun surat jalan, dan
Ø Bibit
yang roboh berat dan umurnya berlebihan juga tidak dapat disertifikasi
Bibit
tebu untuk penanaman secara komersial harus tebu muda dari nurseri yang pasti,
bebas dari penyakit, tidak rusak akibat hama dan kerobohan serta merupakan
varietas murni. Tebu R1 dapat digunakan dalam penanaman jika memenuhi kriteria
ini, khususnya jika merupakan sebuah varietas baru yang hanya tersedia dalam
jumlah yang kecil untuk digunakan sebagai bibit.
PENANAMAN
Waktu
penanaman pada suatu tahun mempunyai pengaruh yang besar terhadap hasil yang
diperoleh pada perkebunan tebu. Secara umum, penanaman pada waktu awal dapat
dilakukan, dan ini mungkin memberikan hasil yang tinggi. Hal ini karena masa
kritis mempunyai periode tumbuh dan ini akan mencapai hasil berkebun dan
penutupan kanopi yang lebih baik,
sebelum fase pemanjangan batang yang cepat pada kondisi yang panas. Ini juga
mungkin akan memperoleh curah hujan yang tinggi. Ini juga didemonstrasikan di
Zimbabwe (Ellis et al., 1984) dimana
kondisi untuk permulaan pemanjangan batang cepat akan diperoleh pada temperatur
rata-rata 18.50C dan
pembentukan lima daun dari atas pada awal pertumbuhan. Penanaman tebu yang
terlambat tidak akan diperoleh hasil yang memuaskan. Studi lain di Swaziland
menunjukkan bahwa akan terjadi penurunan hasil pada tanaman tebu sekitar 1.25
ton/ha untuk setiap minggu penundaan pada penanaman dari Juli hingga bulan
selanjutnya. Hasil yang sama dilaporkan dari negara lain.
Petani
pada lahan yang beririgasi lebih mengontrol program penanaman. Di areal tadah
hujan penanaman dapat ditunda hingga permulaan musim hujan, dan dapat
dipadatkan untuk melengkapinya sebelum curah hujan tinggi dan pada kondisi yang
kering penanaman berikutnya ditunda/dicegah. Setelah ini mereka dapat menerima
beberapa penanaman mungkin akan gagal tumbuh karena sedikit curah hujan yang
diterima. Pelaksanaan persiapan lahan secara komplit dan peralatan yang baik
dan tenaga yang tersedia, penanaman akan berhasil baik, khususnya dibeberapa
negara tropis,waktu permulaan musim kering dapat diperkirakan dengan akurasi
yang rasional dan hujan yang lebat diprediksikan akan terjadi. Sejauh penetrasi
air ke tanah sampai kedalaman 100 mm, batang tebu dapat dibenamkan dalam alur
dan ditutup dengan tanah. Tanah yang ada diatas mungkin kering, tetapi yang
bersentuhan dengan tebu masih lembab dan germinasi akan selalu bagus. Pemadatan
tanah (compressing) disekitar bibit
tebu yang ditanam untuk memperoleh tanah yang lebih bagus dan bibit tebu yang
kontak akan mempertinggi germinasi.
Bibit
tebu dibanyak negara selalu ditanam menggunakan tangan, ketika tenaga kerja
mahal, penanaman dengan mesin diterapkan seperti yang terjadi di Australia dan
USA. Pada penanaman secara manual kebutuhan bibitnya adalah 5-10 ton/ha, dengan
rata-rata 7 ton/ha untuk 50 % overlap. Bibit tanaman tebu pada umumnya dipotong
di nursery dan disusun dalam tumpukan. Biasanya bibit tidak diklentek untuk
melindungi mata bibit dari kerusakan selama transit, dan mencegah agar bibit
tidak kering sebelum ditanam. Jika mungkin dilakukan bibit yang roboh dan
terinfeksi hama dibuang. Bibit tebu dipindah/diangkut ke areal penanaman dengan
trailer, dan diturunkan ke areal untuk didistribusikan menggunakan tenaga manusia,
atau mungkin juga ditransfer ke areal menggunakan trailers melalui/melewati
alur yang ada.
Batang
dipotong dan dibawa ke areal untuk ditanam, atau pemotongan dilakukan dalam
alur. Bibit dipotong dengan panjang bervariasi, umumnya 3-4 mata atau dengan
panjang tidak lebih dari 450 mm. Pemotongan dilakukan dengan pisau atau golok (macchele). Kadang golok (guillotines) juga digunakan ketika bibit
disiapkan diareal. Pemotongan ini untuk mengurangi dominansi apikal yang akan
terjadi pada batang yang panjang ketika mata pucuk batang tumbuh, hormon
seperti zat kimia atau auksin memperlambat perkembangan mata yang lebih bawah
untuk meningkatkan derajad dari pucuk ke pangkal batang. Sehingga jika batang
ditanam akan diperoleh gap yang tinggi dalam suatu row dari tunas yang muda.
Gap ini harus disulam dengan bibit extra, ini akan memberikan hasil signifikan
waktu dan uang untuk material tanam. Namun jika batang dipotong dalam 3 mata
sebelum dicover, semua mata dapat berkecambah untuk seluruh row sehingga
pertumbuhannya seragam dan penyulaman tidak perlu dilakukan (gambar 4).
Pisau
pemotong harus direndam dalam larutan disinfektan (seperti 5.15 % Lysol, 0.1 % larutan Mirrol atau Roccal) untuk setiap row yang akan ditanam untuk meminimalkan
penyebaran RSD. Dibeberapa negara (seperti Zimbabwe) bibit direndam dalam
fungisida sebelum ditanam untuk mencegah serangan smut. Bibit ini kemudian
dicover dengan tanah sekitar 100 mm dengan memecah bongkahan tanah dengan
tangan menggunakan cangkul atau dengan implement untuk mengover (discs atau moudlboard). Pada areal beririgasi, penanaman diikuti dengan
irigasi secepat mungkin, khususnya jika varietas tersebut susah untuk
berkecambah. Pada areal tadah hujan, tebu harus ditanam jika diperkirakan dekat
dengan hujan.
Tanam
tumpang sari dilakukan dibeberapa negara seperti Afrika, Asia, Fiji dan
Mauritius. Dilakukan dengan menanam tebu pada inter-row tanaman pangan. Tanaman
ini selalau mempunyai pertumbuhan yang cepat seperti sayuran, sugar beans, kacang kedelai, kacang
tanah dan jagung yang ditanam bersamaan dengan penanaman tebu. Tanaman pangan
ini dapat dipanen ± 90 hari, sebelum tebu mempunyai konopi yang utuh (tajuk
telah menutup). Pada areal yang mempunyai curah hujan tinggi, tanaman pangan
tak suka untuk ditempatkan pada keadaan stres air pada tebu, dan efek naungan
merupakan pembatas bagi perkembangan awal tanaman. Sejumlah penelitian penting
yang dilakukan memperlihatkan bahwa produksi biomasa bersih tanaman tumpang
sari lebih besar daripada penanaman tebu
saja. Produksi beberapa makanan sangat menarik bagi petani yang mengerjakan hal
ini, karena seringkali seluruh lahannya ditanami dengan tebu.
Implemen
yang digunakan dalam musim penanaman sangat kompleks dan selalu ditarik oleh traktor
beroda, secara sederhana dipotong menggunakan alat pemanen, dibawa ke alur dan
dicover menggunakan discs yang lain mempunyai alat tambahan untuk membuka alur,
meletakkannya dalam alur, aplikasi pupuk dan dicover. Di Australia, dimana
mudah terserang penyakit nenas (Ceratocystis
paradoxa) pada beberapa varietas tertentu, dilengkapi dengan nozel yang
digunakan untuk menyemprotkan fungisida sebelum ditanam. Alternatifnya, mesin
ini dilengkapi dengan tangki yang telah diisi dengan fungisida. Kecepatan
penanaman menggunakan mesin lebih cepat dari pada penanaman secara manual
sekitar 8 ton/ha. Tipe alat penanam terlihat pada Gambar 5.
MANAJEMEN RATOON
Managemen
ratoon yang bagus sangat penting bagi kelanjutan tanaman produktif setelah
jangka waktu yang lama. Prioritas terbesar dalam pemeliharaan ratoon adalah
untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur lahan, seperti jalan, saluran air,
saluran drainase, irigasi sub-permukaan, waktu untuk memperbaiki ini relatif
pendek. Karena pertumbuhan ratoon yang cepat, dan karena permintaan mesin pada
waktu ini sangat banyak ketika persiapan lahan dan penanaman mempunyai
prioritas yang besar.
Ada
beberapa perbedaan dalam manajeman antara areal tadah hujan dan beririgasi,
khususnya adanya pembakaran sampah setelah dipanen. Pada areal tadah hujan
salah satunya adalah untuk mempertahankan sampah sebagai mulsa (SASEX, 1996)
dalam hubungannya untuk meningkatkan hasil tebu dengan :
Ø Penyimpanan
kelembaban tanah
Ø Mengurangi
kehilangan air dari tanah melalui evaporasi, run off, erosi tanah dan surface
capping
Ø Meningkatkan
penerimaan hujan oleh permukaan tanah, pertikel agregasi tanah dan secara
konsekwen meningkatkan ruang pori udara.
Ø Menekan
pertumbuhan rumput secara efektif
Ø Mengurangi
operasi pembakaran yang membahayakan dan polusi lingkungan.
Ø Mengurangi
pemadatan tanah.
Ø Mengurangi
jumlah aplikasi tertentu pada tanah ketika pupuk diaplikasikan mulsa.
Kerugiannya
adalah:
Ø Keluaran
tebangan rendah
Ø Hanya
sedikit alat panen mesin yang dapat menebang tebu hijau secara efisien dengan
konsekwensi mengurangi upah dan meningkatkan keluaran bahan ekstraksi di pabrik
dan ekstraksi sukrosa.
Ø Sejumlah
tebu mungkin akan hilang pada saat tebang tebu hijau.
Ø Regenerasi
ratoon terlambat khususnya selama cuaca dingin.
Ø Pada
tanaman tebu yang terkena stres sampahnya mungkin akan menyebarkan serangga
(seperti trash worms dan Eldana
saccharina) pada regenerasi ratoon.
Ø Sampah
tebal yang menutupi mungkin akan menekan hasil tebu.
Konsekwensinya,
walaupun argumen untuk penutupan trash sangat meyakinkan, ini hanya
direkomendasikan terbatas pada areal berbatu, pada areal miring dan tanah yang
mudah tererosi, untuk areal yang dekat dengan pemukiman penduduk dan dekat
dengan jalan utama dan dimana lapisan inversi panas rendah untuk mencegah
polusi udara.
Walaupun
sulit untuk menerapkan pemulsaan menggunakan seresah/sampah tebu, namun ini
tetap dilaksanakan di areal non irigasi untuk skala besar (industri) untuk
mendapatkan kegunaan pemulsaan. Sebagai contoh, pemulsaan digunakan secara
intensif oleh para petani kecil di Kenya karena curah hujan tahunan yang tinggi
di areal tebu hingga 2000 mm. Negara lain yang menggunakan mulsa ini adalah
Colombia, dimana perlindungan lingkungan menekan industri tebu untuk
berkomitmen tidak membakar tebu sejak tahun 2000. Pemecahannya adalah
mengembangkan alat panen yang efektif untuk tebu hijau dan varietas yang mudah
mengelentek. Australia juga membuat kebijaksanaan untuk menebang tebu hijau
pada tebu yang tidak diirigasi.
Banyak
industri tebu membakar seresah baik sebelum ataupun setelah tebang untuk
memudahkan pemeliharaan tanaman ratoon, terutama ketika diterapkan irigasi.
Walaupun demikian kadang masih ada kompromi ketika seresahnya masih tersisa,
mungkin dapat dikumpulkan untuk setiap row dipungut ke suatu row setiap 5-8
row. Namun demikian penerapan irigasi alur, seresah menghalangi aliran air.
Konsekwensinya, seresah harus selalu dibakar untuk memecahkan masalah ini.
Ripping
pada inter row dilakukan oleh beberapa negara untuk meningkatkan penyerapan dan
memecah kembali lapisan yang mengalami pemadatan. Jika pemanenan menyebabkan
beberapa kerusakan pada inter-row ini dapat diperbaiki dengan operasi ripping, tetapi juga bahaya bagi sistem
perakaran yang sudah ada dimana tanaman bergantung selama minggu pertama
setelah panen. Pembentukan kembali alur ridger setelah panen mungkin lebih
bermanfaat, khususnya pada areal yang menggunakan irigasi alur dan tanah
dangkal untuk membuat dasar perakaran lebih dalam pada alur diantara tunggul.
Mungkin
juga dilakukan penyulaman pada gap tanaman ratoon. Jika ini dilakukan,
pengoperasiannya harus dilakukan segera mungkin setalah panen, dan pada areal
irigasi dilakukan bersamaan dengan irigasi pertama. Gap akan disulam jika
jaraknya ± 1 m, dan jika dihubungkan gap pada sebuah row yang berdekatan. Tebu
dapat menggantikan tunggul yang hilang dan penyulaman hanya dilakukan jika
alasan tanaman yang hilang/rusak telah diidentifikasi dan dikoreksi. Selain itu
agen yang menyebabkan terjadinya gap mungkin kerusakan suplai tebu. Bentuk
efektif dari penyulaman adalah dengan set yang akan berkecambah pada suatu
nurserry. Bentuk bahan tanam dikenal dengan “ speedlings”. Operasional ratoon manajemen yang lain adalah
pemupukan dan kontrol rumput.
PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN
TEBU
Gulma
dideskripsikan sebagai tanaman yang tumbuh tidak pada tempatnya, dan tidak ada
tempat untuk tumbuh pada penanaman tebu yang secara efisien. Ketika gulma
dibiarkan tumbuh tanpa pengendalian di suatu areal penanaman, gulma akan
menekan dengan cepat dan merusak tebu. Gulma mempengaruhi tanaman dengan
beberapa cara yaitu :
Ø Persaingan
dengan tebu terhadap air, nutrisi, cahaya dan ruangan dan mempunyai pengaruh
terhadap germinasi
Ø Merupakan
inang pengganti terhadap hama dan penyakit.
Ø Rumput
dapat mengeluarkan zat kimia yang merusak ke dalam tanah.
Gulma
sangat berbahaya ketika tanaman masih muda, dan lebih berbahaya untuk tanaman
ratoon, gulma relatif tidak penting ketika tanaman telah berkonopi penuh. Efek
gulma terhadap hasil tebu secara efektif didokumentasikan. Di Hawaii dan
Trinidad hasil akan meningkat ketika dilakukan weeding hingga 4 kali dan di
Afrika Selatan hasil menjadi 2 kali lipat jika pengendalian gulma dilakukan
dengan efektif.
Spesies
rumput ada 1) annuals (satu tahun),
yang hidup untuk 1 tahun dan membentuk biji pada tahun tersebut, 2) biennials (dua tahunan) yang hidup untuk
dua tahun dan pembentukan biji terjadi pada tahun kedua, 3) perennials (tahunan) yang hidup untuk
waktu lebih dari 3 tahun dan menghasilkan biji setiap tahunnya. Gulma juga
mungkin dikotil (gulma daun lebar)
atau monokotil (rumputan). Gulma
dapat terus berkembang pada areal penanaman karena bijinya dapat viabel untuk
waktu yang lama, memiliki kemampuan yang efektif dalam menekan, mempunyai
kemampuan untuk menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak, mempunyai sedikit
predator dan merupakan tanaman yang tahan.
Pengendalian
gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
Ø Preventif: Menjaga agar tanaman
selalu bebas dari gulma dan kanal irigasi dapat digunakan untuk menekan seedling dan distribusi gulma. Persipan
lahan juga bertujuan untuk mengendalikan gulma pada penanaman berikutnya.
Ø Cara budidaya: Menggunakan cahaya dan
air untuk mengendalikan gulma dengan :
a)
Pemeliharaan yang bagus,
germinasi dan meminimalkan gap dalam row
b)
Mendapatkan penutupan kanopi yang
lebih cepat untuk menekan gulma.
c)
Menggunakan jarak tanam sempit
d)
Mengusahakan sedikit seresah pada
tanaman ratoon.
e)
Menggunakan break crops dan rotasi tanaman untuk mencegah gulma yang dominan.
f)
Managemen irigasi yang efektif,
seperti mengeliminasi areal yang lembab dengan irigasi tetes atau irigasi alur.
Ø Mekanik: Biasanya menggunakan traktor,
tetapi bagal, kuda, sapi, kerbau yang menarik cultivator juga digunakan untuk
areal yang sempit. Weeding juga dapat menggunakan pengoperasian alat yang lain
seperti middle busting atau ridger re-building. Namun demikian, tebu
dapat rusak dan biji rumput dapat
berkecambah lagi. Hanya rumput pada interr row yang dikendalikan dan
metode ini kurang cocok untuk areal yang mempunyai saluran terbuka atau
arealnya miring.
Ø Weeding manual, meliputi :
a)
Mencabut rumput dengan tangan
dari row khususnya spesies rumput yang besar seperti Sorghum spp, Panicum spp
dan Rottboelia spp dan gulma daun
lebar seperti familia Cucurbitaceae
dan Commelina sp.
b)
Cangkul tangan, ini biasa
dilakukan pada areal yang sempit, tetapi hanya efektif jika rumput masih kecil
dan kondisi kering dan merupakan pendukung pengendalian secara kimiawi.
Ø Bahan kimia (Herbisida). Merupakan metode yang
mahal, tetapi sangat efektif ketika bahan kimia yang benar dipilih dan
diaplikasikan dengan cara yang benar. Kontrol gulma menggunakan herbisida pada suatu
row, dapat mengendalikan gulma dalam periode yang panjang, dapat dilakukan
dengan cepat pada areal yang luas dan memerlukan sedikit tenaga kerja dan mesin
yang perlukan.
Comments