Kembali Menulis: Antara Tebu, Keluarga, Kampus, dan Masjid
Bismillahirrahmanirrahim.
Akhirnya, saya kembali menulis.
Setelah sekian lama blog ini terbengkalai—tertutup debu kesibukan, tumpukan tugas, dan hiruk-pikuk kehidupan—hari ini saya memutuskan untuk kembali. Bukan karena waktu saya tiba-tiba menjadi longgar, justru sebaliknya. Hidup saya sekarang lebih padat dari sebelumnya. Namun, di tengah padatnya peran sebagai ayah, mahasiswa, dan pengurus masjid, saya merasa menulis adalah cara terbaik untuk merapikan pikiran, menyimpan jejak perjalanan, dan berbagi manfaat.
Blog ini akan menjadi rumah bagi cerita-cerita sederhana: tentang tanaman tebu yang saya teliti, tentang keluarga yang menjadi alasan saya terus berjuang, tentang bangku kuliah yang mengajarkan kerendahan hati, dan tentang masjid yang mengingatkan saya akan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Tebu: Lebih dari Sekadar Tanaman
Bagi sebagian orang, tebu hanyalah bahan baku gula. Namun bagi saya, tebu adalah guru yang diam.
Dari tebu saya belajar tentang kesabaran. Ia tidak tumbuh dalam semalam. Ia melewati panas, hujan, hama, penyakit, dan ketidakpastian musim. Namun ketika waktunya tiba, ia berdiri tegak, manis, dan bermanfaat bagi banyak orang.
Sebagai mahasiswa agronomi yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana, fokus penelitian saya banyak berkisar pada pertumbuhan tunas, kesehatan tanaman, serta upaya meningkatkan produktivitas tebu. Di lapangan, saya belajar bahwa teori dan praktik tidak selalu berjalan seiring. Tanaman tidak membaca jurnal ilmiah. Ia merespons lingkungan, perlakuan, dan keseimbangan alam.
Ada hari-hari ketika percobaan tidak berjalan sesuai rencana. Tunas tidak tumbuh seragam. Penyakit muncul tanpa diundang. Data tidak seindah hipotesis. Namun justru di situlah letak pelajaran terbesarnya: ilmu bukan hanya tentang keberhasilan, tetapi tentang ketekunan untuk memahami kegagalan.
Blog ini akan menjadi tempat saya berbagi pengetahuan praktis tentang budidaya tebu, pengamatan lapangan, serta refleksi ilmiah yang mungkin bermanfaat bagi petani, mahasiswa, maupun siapa saja yang mencintai dunia pertanian.
Menjadi Ayah: Tanggung Jawab yang Menguatkan
Di rumah, saya bukan peneliti. Saya adalah ayah.
Peran ini tidak memiliki kurikulum resmi, tidak ada ujian tertulis, dan tidak ada wisuda. Namun setiap hari adalah ujian karakter. Anak-anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna; mereka membutuhkan ayah yang hadir.
Ada malam-malam ketika saya harus menyelesaikan tugas kuliah sambil menemani anak belajar. Ada pagi hari ketika saya berangkat ke lapangan penelitian dengan bekal doa dari keluarga. Ada momen sederhana—tertawa bersama, makan seadanya, atau sekadar duduk berdekatan—yang terasa lebih berharga dari pencapaian akademik apa pun.
Menjadi ayah mengajarkan saya prioritas. Bahwa kesuksesan bukan hanya tentang gelar atau jabatan, tetapi tentang keluarga yang merasa aman, dicintai, dan dihargai.
Dalam blog ini, saya ingin berbagi kisah-kisah kecil tentang kehidupan keluarga: pelajaran kesabaran, arti tanggung jawab, dan bagaimana peran sebagai ayah justru menjadi sumber energi untuk terus belajar dan berbuat baik.
Mahasiswa Lagi: Belajar Merendahkan Hati
Kembali menjadi mahasiswa di usia yang tidak lagi muda adalah pengalaman yang unik. Di satu sisi, saya membawa pengalaman hidup yang lebih matang. Di sisi lain, saya harus kembali duduk, mendengarkan, mencatat, dan menerima koreksi.
Dunia akademik mengajarkan bahwa ilmu itu luas, dan kita selalu menjadi pembelajar. Ada kalanya saya merasa tertinggal oleh perkembangan teknologi dan metodologi penelitian yang semakin kompleks. Namun setiap kesulitan justru menjadi pengingat bahwa belajar adalah proses seumur hidup.
Menulis di blog ini adalah bagian dari proses belajar tersebut. Dengan menuliskan kembali apa yang saya pelajari, saya berharap pemahaman saya menjadi lebih dalam, dan siapa tahu, tulisan ini juga bermanfaat bagi orang lain yang sedang menempuh jalan serupa.
Masjid: Tempat Kembali Menata Niat
Di tengah semua kesibukan dunia, masjid adalah tempat saya menata ulang niat.
Sebagai pengurus masjid, saya belajar bahwa pelayanan kepada umat seringkali tidak terlihat, tetapi sangat berarti. Mengatur kegiatan, menjaga kebersihan, memastikan kenyamanan jamaah, hingga menyusun laporan keuangan—semuanya adalah bentuk ibadah jika dilakukan dengan ikhlas.
Masjid mengajarkan saya tentang kebersamaan. Tentang bagaimana perbedaan latar belakang dapat disatukan oleh tujuan yang sama: mencari ridha Allah. Di sana, saya melihat anak-anak belajar mengaji, para orang tua berbagi nasihat, dan masyarakat saling membantu dalam kebaikan.
Blog ini juga akan memuat pengalaman dan refleksi dari kegiatan kemasjidan: pelajaran kepemimpinan, pentingnya gotong royong, serta kisah-kisah inspiratif dari masyarakat sekitar.
Menulis untuk Meninggalkan Jejak
Ada pepatah yang mengatakan: manusia mati meninggalkan jejak. Saya tidak tahu jejak seperti apa yang akan saya tinggalkan. Namun melalui tulisan, saya berharap dapat menyimpan potongan perjalanan hidup—sebagai pengingat bagi diri sendiri, dan mungkin sebagai pelajaran bagi anak-anak saya kelak.
Blog ini bukan tentang kesempurnaan. Ini adalah tentang proses. Tentang jatuh dan bangkit. Tentang belajar dari tanaman tebu, dari keluarga, dari kampus, dan dari masjid.
Jika Anda membaca tulisan ini, anggaplah Anda sedang duduk di ruang tamu sederhana, berbincang tanpa jarak. Silakan meninggalkan jejak berupa pesan, saran, atau doa. Karena perjalanan ini tidak harus ditempuh sendirian.
Bismillah, mari kita mulai kembali.
Comments