Malu Dan Keutamaannya Dan Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan Sifat Malu Itu
1.
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui
seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang
hal sifat malu - yakni malu mengerjakan kejahatan. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari
keimanan." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Malu
itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan kemaksiatan
atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah terpuji dan sangat
baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu
bersembahyang karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu pergi ke
masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau menolak
berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu adalah
tercela dan tidak ada kebaikannya sama sekali.
Dalam
hal ini ada sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan Abu
Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya di antara hal-hal yang
ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: Apabila kamu
tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki."
Adapun
Hadis di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk menakut-nakuti
pada seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya ialah:
"Kalau
kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran dan kemaksiatan itu, terserahlah,
kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu inginkan dan sesuka hatimulah. Tetapi
ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada balasannya, baik di dunia ataupun di
akhirat."
Ada
pula sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah
untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak
melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia,
sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun
agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal
itu termasuk sesuatu yawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik
dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."
2.
Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sifat
malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam
riwayat Muslim disebutkan: "Sifat malu itu baik seluruh akibatnya."
Atau beliau s.a.w. bersabda: "Malu itu semuanya baik akibatnya." Yang
dimaksud itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan menurut
pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan tidak
dibenarkan oleh agama.
3.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keimanan itu
ada tujuh puluh lebih - tiga sampai sembilan -atau keimanan itu cabangnya ada
enampuluh lebih - tiga sampai sembilan. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha
illallah dan serendah rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang berbahaya
-semacam batu, duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya -dari
jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan itu." (Muttafaq
'alaih)
4.
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu lebih sangat
sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat persembunyiannya - yakni
perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya dengan suami yang belum
pernah dikenalnya. la amat sangat malu kepada suaminya itu. Jikalau beliau
s.a.w. melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak
di wajahnya." (Muttafaq 'alaih)
Para
alim-ulama berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budipekerti yang menyebabkan
seseorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak mau
lengah untuk menunaikan haknya seseorang yang mempunyai hak." Kami meriwayatkan
dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu ialah perpaduan antara
melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu
tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan
sifat malu."
Wallahu
a'lam.
Sumber
: Riyadhus Shalihin, Bab Malu Dan
Keutamaannya Dan Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan Sifat Malu Itu

Comments