Sabar – part 2
1.
Dari Anas r.a., katanya: "Nabi s.a.w. berjalan melalui seorang wanita yang
sedang menangis di atas sebuah kubur. Beliau bersabda: "Bertaqwalah kepada
Allah dan bersabarlah!" Wanita itu berkata: "Ah, menjauhlah
daripadaku, kerana Tuan tidak terkena musibah sebagaimana yang mengenai diriku
dan Tuan tidak mengetahui musibah apa itu." Wanita tersebut diberitahu –
oleh sahabat beliau s.a.w. - bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi s.a.w.
Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi s.a.w. tetapi di mukanya itu tidak didapatinya
penjaga-penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata: "Saya memang tidak
mengenal Tuan - maka itu maafkan pembicaraanku tadi." Kemudian beliau
s.a.w. bersabda: "Hanyasanya bersabar - yang sangat terpuji - itu ialah di
kala mendadaknya kedatangan musibah yang pertama." (Muttafaq 'alaih)
Dalam
riwayat Muslim disebutkan: "Wanita itu menangisi anak kecilnya - yang
mati."
Keterangan:
Maksud
"Mendadaknya kedatangan mushibah yang pertama," bukan berarti ketika mendapatkan
mushibah yang pertama kali dialami sejak hidupnya, tetapi di saat baru terkena
mushibah itu ia bersabar, baik mushibah itu yang pertama kalinya atau keduanya,
ketiganya dan selanjutnya.
Jadi
kalau sesudah sehari atau dua hari baru ia mengatakan: "Aku sekarang sudah
berhati sabar tertimpa musibah yang kemarin itu," maka ini bukannya sabar
pada pertama kali, sebab sudah terlambat.
8.
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasululiah s.a.w. bersabda: "Allah
Ta'ala berfirman:
"Tidak
ada balasan bagi seseorang hambaKu yang mu'min di sisiKu, di waktu Aku mengambil
- mematikan - kekasihnya dari ahli dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaan Allah,
melainkan orang itu akan mendapatkan syurga." (Riwayat Bukhari)
9.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya ia bertanya kepada Rasululiah s.a.w. perihal
penyakit taun, lalu beliau memberi-tahukannya bahwa sesungguhnya taun itu
adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Ta'ala kepada siapa saja yang
dikehendaki olehNya, tetapi juga sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah
Ta'ala kepada kaum mu'minin. Maka tidak seorang hambapun yang tertimpa oleh
taun, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keridhaan
Allah serta mengetahui pula bahwa taun itu tidak akan mengenainya kecuali
kerana telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan memperoleh seperti
pahala orang yang mati syahid." (Riwayat Bukhari)
2.
Dari Anas r.a., katanya: "Saya mendengar Rasululiah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
Allah 'Azzawajalla berfirman: "Jikalau Aku memberi cobaan kepada hambaKu
dengan melenyapkan kedua matanya - yakni menjadi buta, kemudian ia bersabar,
maka untuknya akan Kuberi ganti syurga kerana kehilangan keduanya yakni kedua
matanya itu." (Riwayat Bukhari)
3.
Dari 'Atha' bin Abu Rabah, katanya: "Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma
mengatakan padaku: "Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang
tergolong ahli syurga?" Saya berkata: "Baiklah." Ia berkata lagi:
"Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata:
"Sesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu
lalu saya membuka aurat tubuhku. Oleh kerananya haraplah Tuan mendoakan untuk
saya kepada Allah - agar saya sembuh." Beliau s.a.w. bersabda:
"Jikalau engkau suka hendaklah bersabar saja dan untukmu adalah syurga,
tetapi jikalau engkau suka maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta'ala
agar penyakitmu itu disembuhkan olehNya."
Wanita
itu lalu berkata: "Saya bersabar," lalu katanya pula:
"Sesungguhnya kerana penyakit itu, saya membuka aurat tubuh saya. Kalau
begitu sudilah Tuan mendoakan saja untuk saya kepada Allah agar saya tidak
sampai membuka aurat tubuh itu." Nabi s.a.w. lalu mendoakan untuknya -
sebagaimana yang dikehendakinya itu." (Muttafaq 'alaih)
4.
Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Mas'ud r.a. katanya:
"Seakan-akan saya melihat kepada Rasulullah s.a.w. sedang menceriterakan
tentang seorang Nabi dari sekian banyak Nabi-nabi shalawatuliah wa salamuhu
'alaihim. Beliau dipukuli oleh kaumnya, sehingga menyebabkan keluar darahnya
dan Nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil mengucapkan: "Ya
Allah ampunilah kaum hamba itu, sebab mereka itu memang tidak mengerti."
(Muttafaq 'alaih)
5.
Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Tidak
suatupun yang mengenai seseorang muslim - sebagai musibah - baik dari kelelahan,
tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan
datang ataupun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti – yakni sesuatu
yang tidak mencocoki kehendak hatinya, ataupun kesedihan - segala macam dan segala
waktunya, sampaipun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah
menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya-yakni
sesuai dengan musibah yang diperolehnya- itu." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Kesakitan
apapun yang diderita oleh seseorang mu'min, ataupun bencana dalam bentuk
bagaimana yang ditemui olehnya itu dapat membersihkan dosa-dosanya dan berpahalalah
ia dalam keadaan seperti itu, tetap bersabar dan tabah. Sebaliknya jikalau
tidak sabar dan uring-uringan serta mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan,
maka bukan pahala yang didapatkan, tetapi makin menambah besarnya dosa. Oleh
sebab itu jikalau kita tertimpa oleh kesakitan atau malapetaka, jangan sampai
malahan melenyapkan pahala yang semestinya kita peroleh.
6.
Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: Saya memasuki tempat Nabi s.a.w. dan beliau sedang
dihinggapi penyakit panas. Saya lalu berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya
Tuan dihinggapi penyakit panas yang amat sangat." Beliau kemudian
bersabda: "Benar, sesungguhnya saya terkena panas sebagaimana panas dua
orang dari engkau semua yang menjadi satu." Saya berkata lagi: "Kalau
demikian Tuan tentulah mendapatkan dua kali pahala." Beliau bersabda:
"Benar, demikianlah memang keadaannya, tiada seorang Muslimpun yang
terkena oleh sesuatu kesakitan, baik itu berupa duri ataupun sesuatu yang lebih
dari itu, melainkan Allah pasti menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab mushibah
yang mengenainya tadi dan diturunkanlah dosa-dosanya sebagaimana sebuah pohon
menurunkan daunnya - dan ini jikalau disertai kesabaran."
Sumber
: Riyadhus Shalihin, Bab Sabar

Comments