Kasih Ibu
Sebagai anak tunggal saya memang terbiasa hidup mandiri. Sebisa mungkin tanpa bantuan orang lain, termasuk orang tua saya. Bahkan sampai-sampai dalam memilih dan mendaftar sekolah pun, saya lakukan sendiri. Ibarat pekerja proyek, orang tua saya ‘tau bersih’. Tidak memikirkan bagaimana cara dan prosesnya, yang penting saya tetap sekolah, di manapun, apapun. Sampailah saya menjadi sekarang ini, kebiasaan hidup mandiri tetap terjaga. Prinsip saya, jangan sampai merepotkan orang lain, apalagi orang tua.
Seperti biasa, sudah menjadi rutinitas saya, setiap ada
waktu senggang di tempat kerja, saya selalu menelpon ibu saya. Walaupun
terkadang durasinya tidak sampai 1 menit. Sekedar bertanya sedang apa, apakah
dagangannya laku, atau, di sana hujan ga? Tidak ada cara lain yang bisa saya
lakukan untuk menunjukkan perhatian saya kepada orang tua selain hal ini.
Hingga tadi siang, ketika saya menelpon, karena saking
seringnya menelpon, saya kehabisan bahan bicara. Saya iseng menanyakan hal yang
sudah lama tidak saya lakukan.
“Ma’, nduwe duit ra? Aku kirimi no.” (Ma’, punya uang ga?
Aku di kirimi (uang) dong).
“Piro?”
Dalam hatiku berpikir, berapa yang harus ku minta. Aku asal
sebut saja.
“300 wae Ma’.” (300 (ribu) saja Ma’.”
“Oooo, yo wes, engko di kirim.”
Tak lama pun, saya di hubungi ibu saya.
“Wes di kirim yo.”
“Welah, cepet nemen. Lagi akeh no duite?”
“Yo ora, Ma’e kiro awakmu butuh cepet.”
“Ora ma’, leh ngenggo iseh minggu ngarep”.
“Oalah, di kiro cepet”.
“Yo ra po po.”
Tiba tiba, sampailah kata-kata yang membuatku sangat
bersedih.
“Ma’e yo asline pengen ngirimi awakmu, mung segen.”
“La, segen ngopo Ma’, karo anakke kok segen.”
“La iyo, saiki kan duitmu wes akeh.”
Sudahlah, tidak usah di lanjutkan lagi transkrip pembicaraan
ini. Entah kenapa, saya menjadi amat sangat durhaka kepada orang tua. Apa yang
selama ini saya lakukan dan saya anggap benar, ternyata salah. “Segen” atau
“segan” bagi kami adalah rasa hormat yang dimiliki karena posisinya tidak sama,
lebih rendah. Menurut KBBI, segan adalah “merasa malu (takut, hormat) kepada :
“. Jadi, apa pantas seorang anak di segani oleh ibunya sendiri? Seharian penuh
saya berpikir dan berpikir. Ternyata saya memang tidak pantas di segani oleh
siapa-siapa.


Comments